HOme

Senin, 07 Maret 2011

Perjuangan Melawan Penjajah

PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH

a.   Latar belakang kedatangan kaum penjajah
            Pada awal abad ke-15 bangsa Eropa mulai mengadakan penjajahan samudera. Tujuannya, mencari kekayaan dan kejayaan, serta menyebarkan Agama Nasrani
            Salah satu kebutuhan yang sangat diperlukan oleh bangsa Eropa yang mempunyai iklim dingin adalah rempah – rempah. Rempah – rempah berguna untuk obat – obatan, penyedap makanan, dan pengawet makanan.
            Negara penghasil rempah – rempah yang terkenal sejak zaman dahulu ialah Indonesia, terutama Maluku. bangsa Eropa ingin membeli rempah – rempah tersebut secara langsung dari Indonesia. Ada beberapa alasan mengapa mereka menyukai rempah – rempah dari Indonesia. pertama, mutu rempah – rempah Indonesia bagus. Kedua harganya lebih murah dibandingkan dengan harga di Eropa.

b.   Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia
            Pada awalnya, tujuan utama bangsa eropa datang ke Indonesia ialah untuk berdagang. Akan tetapi, tujuan tersebut selanjutnya berubah menjadi menjajah. Beberapa bangsa Eropa yang pernah datang dan menjajah Indonesia ialah bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Belanda merupakan bangsa yang paling lama memjajah Indonesia, yakni selama 350 tahun.

1.   Bangsa Belanda
            Dalam upaya mencari jalan menuju Indonesia, pada mulanya pelaut – pelaut Belanda mencari jalan melalui Kutub Utara. Usaha ini tidak berhasil. Kemudian mereka mencari jalan lain yaitu melalui Tanjung Harapan. Setelah berlayar selama 14 bulan, akhirnya, pada 22 Juni 1596, armada Belanda berhasil mendarat di Banten. Rombongan ini dipimpin oleh Cornelis De Houtman.
            Tujuan utama Belanda datang ke Indonesia ialah untuk berdagang, terutama rempah – rempah. Mula – mula Belanda menunjukkan sikap bersahabat dengan masyarakat Banten. Kemudian Belanda melakukan perjanjian perdagangan dengan Banten. Tetapi, akhirnya Belanda memperlihatkan sikap serakah dan bersikap kasar. Tindakan ini membuat masyarakat Banten marah dan memusuhi Belanda.
            Kedatangan Belanda tidak mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Indonesia. Armada Belanda tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Maluku untuk mencari rempah – rempah. Mereka akhirnya kembali ke Belanda melalui Bali. Armada Belanda yang pertama ini mengalami kerugian besar. Meskipun demikian, rombongan mereka disambut dengan gembira. Alasannya karena mereka sudah menemukan jalan sendiri menuju Indonesia.

Lahirnya VOC
            Pada tahun 1598, untuk kedua kalinya armada Belanda tiba di Banten. Armada ini dipimpin oleh Jacon Van Neck, disusul kemudian oleh armada yang dipimpin oleh Warwijk. Sejak saat itu orang – orang Belanda berlomba – lomba datang ke Indonesia.
            Terbukannya jalur perdagangan ke Indonesia mengakibatkan munculnya persaingan dagang di antara para pedagang. Baik antara sesama pedagang Belanda sendiri maupun dengan pedagang eropa lainnya.
            Untuk memenangkan persaingan dagang dengan Bangsa Eropa lainnya dan di antara sesama Bangsa Belanda sendiri, maka Belanda membentuk persatuan dagang. Persatuan dagang Belanda tersebut didirikan pada tanggal 20 Maret 1602. Namanya ialah Vereenigda Oost Indische Compagnie, disingkat VOC. Artinya persatuan dagang Hindia Timur. Tujuannya mencari keuntungan sebesar – besarnya dengan jalan melawan pesaing – persaingnya, baik dari dalam maupun luar negeri seperti Portugis, Inggris, dan Spanyol.
            Untuk kelancaran usaha dagangnya, pemerintah Belanda memberi hak monopoli kepada VOC, sehingga VOC memiliki beberapa hak :
  1. Membuat perjanjian dengan raja – raja setempat.
  2. Menyatakan perang dan mengadakan perjanjian.
  3. Membuat senjata dan memdirikan benteng.
  4. Mencetak uang
  5. Mengangkat dan memberhentikan pegawai.
Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC yang pertamma dan berkedudukan di Ambon. VOC melakuakn monopoli perdagangan rempah – rempah . Artinya rempah – rempah hanya boleh dijual kepada VOC dengan harga yang ditentukan oleh VOC.
Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi gubernur Jenderal, pusat VOC dipindahkan dari Ambon ke Jayakarta (Jakarta) pada tanggal 31 Mei 1619. Nama Jayakarta diganti  menjadi Batavia. Alasan pemindahan kantor VOC adalah, pertama letak Jayakarta dianggap strategis bagi pelayaran perdagangan. Kedua Jayakarta lebih dekat ke Tanjung Harapan. Sejak bermarkas di Jayakarta sikap VOC semakin kasar dan mereka mulai menjajah Bangsa Indonesia. Akibatnya timbul perlawanan di mana – mana.
Walaupun VOC mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia, namun mereka dapat menguasai kerajaan – kerajaan di Indonesia. Belanda dengan mudah menguasai kerajaan – kerajaan di Indonesia dengan menjalankan politik adu domba. Maksudnya, Belanda mengadu antara raja – raja Bangsa Indonesia sendiri untuk saling bermusuhan. Belanda berpura – pura membela salah satu dari kerajaan yang berselisih, dengan syarat harus tunduk kepada Belanda.
Namun demikian menjelang abad ke-19, keadaan keuangan VOC semakin memburuk, sehingga VOC mengalami kebangkrutan. Melihat keadaan ini, pada tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan. Kekuasaan VOC di Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda.

2.   Sistem Kerja Paksa dan Penarikan Pajak
Pada akhir abad ke-18, terjadi perubahan politik di Eropa. Pada tahu 1806 Napoleon Bonaparte ( Kaisar Prancis ) berhasil menaklukkan Belanda. Napoleon kemudian mengubah bentuk negara Belanda dari republik menjadi kerajaan. Sebagai Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia, Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels. Tujuannya, mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan dari Inggris.
Untuk memperkuat pertahanan di Pulau Jawa, Daendels memerintahkan pembuatan jalan raya. Jalan raya itu sangat panjang. Tujuannya, untuk mempercepat pergerakan pasukan Belanda bila terjadi peperangan. Jalan raya itu terbentang dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur).
Untuk mempercepat pembuatan jalan raya itu, Daendels memrintahkan rakyat Indonesia bekerja paksa tanpa diberi upah. Semua orang dipaksa bekerja keras untuk pembuatan jalan raya tersebut. Siapa yang membantah, dikenai hukuman badan dengan cara disiksa, tanpa peri kemanusiaan. Rakyat Indonesia yang miskin dan melarat semakin menderita dengan adanya kerja paksa tersebut. Akibatnya tidak sedikit bangsa Indonesia yang menjadi korban. Banyak di antara mereka mati kelaparan dan terserang penyakit malaria. Kerja paksa ini disebut Rodi.
Tindakan Daendels tersebut membuat hubungannya dengan penguasa pribumi menjadi renggang. Salah seorang pribumi yang menentang Daendels ialah Pangeran Kusumadinata dari Sumedang, Jawa Barat. Beliau tidak rela rakyat Sumedang yang ikut kerja paksa itu menjadi korban.
Kekejaman yang dilakukan Gubernur Jenderal Daendels terhadap rakyat Indonesia akhirnya didengar oleh Napoleon. Pada tahun 1811 Daendels dipanggil kembali ke negeri Belanda dan digantikan oleh Jansen.

Tanam Paksa (Cultuur Stelsel)
Pada tahun 1830, Van Den Bosch diangkat sebagai Gubernur Jenderal menggantikan Van Der Capellen. Ia diberi tugas mencari uang guna mengisi kas negara Belanda yang sudah kosong akibat perang. Van Den Bosch memberlakukan tanam paksa atau Cultuur Stelsel. Pemerintah Belanda mengerahkan tenaga rakyat untuk menanam tanaman yang hasilnya dapat dijual di pasaran dunia. Misalnya, teh, kopi, tembakau, tebu, dan lain – lain.
Sebenarnya kalau peraturan tanam paksa dijalankan dengan benar, maka tidak akan menyengsarakan rakyat. Tetapi dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Pihak Belanda semakin bertindak sewenang – wenang. Hasil tanaman rakyat dibayar dengan harga yang sangat murah
Tanam paksa menimbulkan penderitaan rakyat. Beban yang harus dialami rakyat semakin berat. Hasil pertanian semakin turun. Bencana kelaparan terjadi di mana – mana. Tidak sedikit rakyat Indonesia yang mati kelaparan.
Sebaliknya, sistem tanam paksa ini sangat menguntungkan Belanda. Kas negara yang tadinya kosong, kini terisi kembali. Semua hasil tanam paksa diangkut ke negari Belanda.

Aturan Tanam Paksa atau Cultuur Stelsel
1.        Penduduk desa diwajibkan menyediakan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa.
2.        Tanah yang dipakai untuk tanaman yang diwajibkan ini dibebaskan dari pajak tanah.
3.        Hasil tanaman itu wajib diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda.
4.        Kerusakan – kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan pemerintah
5.        Pekerjaan yang dilakukan untuk menanam tanaman wajib tidak boleh melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
6.        Yang bukan petani harus bekerja 66 hari setahun bagi pemerintah Belanda.
Penentang Tanam Paksa
Akibat pelaksanaan tanam paksa, penderitaan yang dialami bangsa Indonesia semakin bertambah. Kemiskinan dan kelaparan selalu mengancam.
Ternyata ada juga orang Belanda yang tidak senang dengan diberlakukannya tanam paksa. Di antara bangsa Belanda yang menentang ialah Douwes Dekker dan pendeta Van Houvel. Douwes Dekker, mantan Residen Lebak mengancam tanam paksa melalui bukunya yang berjudul Max Havelaar diceritakan penderitaan rakyat Indonesia akibat pelaksanaan tanam paksa. Selama 31 tahun bangsa Indonesia mengalami keterbelakangan dan kebodohan. Kemiskinan, kelaparan, berbagai penyakit, dan turunnya semangat hidup melanda rakyat di mana – mana.
Untuk itu Multatuli mendesak pemerintah Belanda agar tanam paksa segera dihapuskan. Akhirnya, setelah melalui perdebatan seru di parlemen Belanda, tanam paksa mulai di hapuskan walaupun secara bertahap.


           
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar